Langsung ke konten
Ember Coffee
Kembali ke jurnal

18 Maret 2026 / Biji

Apa yang membuat biji Bali berbeda

Tanah vulkanik dataran tinggi, ceri dipetik tangan, dan proses lot kecil memberi biji lokal karakter yang tak ditemukan pada stok impor.

Tangan memilah ceri kopi mentah dan biji hijau di meja kayu

Sebagian besar kopi yang sampai di Canggu sudah menempuh perjalanan jauh. Biji Bali tidak. Mereka tumbuh di tanah vulkanik dataran tinggi beberapa jam dari bar, di kebun kecil tempat ceri masih dipetik dengan tangan.

Kedekatan itu bukan slogan. Satu lot bisa meninggalkan kebun, beristirahat, lalu masuk ke grinder kami sementara panen masih menjadi ceritanya — bukan catatan di kemasan tahun lalu.

Kintamani dan lereng barat

Kintamani adalah nama yang sudah dikenal banyak tamu. Lot washed dari dataran tinggi itu biasanya bersih dan cerah — sitrus, sedikit floral, aftertaste yang ringan. Lebih ke barat, lot natural dari lereng vulkanik, yang kami roast sebagai Pupuan Reserve, lebih bulat: buah matang, body lebih penuh, manis yang tetap terasa di dalam susu.

Ini bukan minuman oleh-oleh. Mereka ada di papan bersama Ethiopia dan Sulawesi karena bar specialty harus menunjukkan rentang rasa — dan karena kopi lokal bisa berubah mengikuti panen, bukan jadwal kapal.

Lot kecil, cangkir berbeda

Petani di sini tidak mengisi kontainer. Panen sehari mungkin beberapa karung, diproses sore itu juga. Skala itu sebabnya dua karung dari desa yang sama bisa terasa berbeda, dan sebabnya kami cup setiap kedatangan sebelum masuk menu.

Kalau ingin merasakan perbedaannya, minta filter Bali di samping yang impor. Jaraknya tidak halus.

Temukan kami di Canggu.

Petunjuk arah